Awas Penyakit Paru Obstruktif Kronik

Caradunia.comPenyakit paru obstruktif kronik. Masyarakat diimbau supaya menghindari beberapa faktor risiko penyebab penyakit paru obstruktif kronik. Lantaran seiring dengan meningkatnya angka harapan hidup, kebiasaan merokok & polusi udara diperkirakan kasus penyakit ini bisa meningkat di Indonesia.

Menurut Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Tjandra Yoga Aditama, Kamis (5/3) – di Jakarta, PPOK adalah salah satu penyakit tak menular yang jadi prioritas program Departemen Kesehatan.

penyakit paru obstruktif kronik

Selain PPOK, pihaknya yang memfokuskan pada pencegahan & penanggulangan beberapa penyakit tak menular lainnya dengan angka kesakitan serta kematian tinggi di Indonesia yaitu kanker, penyakit jantung, diabetes & stroke.
Prof Wiwien Heru Wiyono, di dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar tetap di bidang Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, menerangkan bahwa PPOK ditandai oleh hambatan aliran udara di saluran pernapasan yang tak sepenuhnya reversibel, selalu progresif . Hal ini disertai dengan respons inflamasi paru abnormal terhadap partikel / gas berbahaya.

Gejala PPOK antara lain, batuk kronik, produksi dahak, sesak napas dan hambatan aktivitas pada individu. Beberapa faktor risiko dari penyakit ini adalah, genetik / keturunan, pajanan terhadap bahan berbahaya seperti: asap rokok, debu, bahan kimia di lingkungan kerja, polusi udara dan infeksi.

PPOK ialah penyakit yang progresif, faal paru pasien diperkirakan akan memburuk dari waktu ke waktu meski dengan pengobatan yang maksimal. Gejala klinis & pengukuran hambatan aliran udara dengan pemeriksaan spirometri mesti dilakukan untuk menilai beratnya penyakit, evaluasi pengobatan & evaluasi perjalanan penyakit tersebut, ujar Wiwien.

Penyakit itu berhubungan dengan efek sistemik seperti : inflamasi atau peradangan sistemik, abnormaliti nutrisi, berat badan menurun & disfungsi otot rangka. Inflamasi sistemik berhubungan dengan terdapatnya stres oksidatif sistemik, konsentrasi abnormal sitokin sirkulasi & aktivasi sel-sel inflamasi sistemik. Efek sistemik berkontribusi penting terhadap timbulnya gejala & hambatan aktivitas pasien PPOK yang pada akhirnya bisa mempengaruhi beratnya penyakit, progresivitas penyakit & kualitas hidup.

Badan Kesehatan Dunia atau WHO memperkirakan, di tahun 2030 PPOK akan menjadi penyebab kematian ke-3 di dunia. Meningkatnya prevalensi penyakit itu terkait karena bertambahnya usia harapan hidup penduduk, pergeseran pola penyakit infeksi yang menurun sedang penyakit degeneratif bertambah, meningkatnya kebiasaan merokok & polusi udara.

Merokok merupakan faktor atas risiko terbesar PPOK, menimbulkan beban ekonomi yang besar pada masyarakat,” ucap nya.

Menurut Wiwien, PPOK memberikan dampak ekonomi yang cukup besar di kalangan masyarakat. Total biaya ekonomi untuk PPOK di negara maju seperti Amerika Serikat di tahun 1993 diperkirakan 23,9 miliar dollar AS & terus meningkat menjadi 38,8 miliar dollar AS tahun 2005.

Di Inggris, total biaya ekonomi untuk PPOK dalam setahun diperkirakan 714 juta euro di tahun 2003. Rata-rata biaya yang dibelanjakan pasien per tahun 4.119 dollar AS di Amerika Serikat, 3.196 dollar di Spanyol, 606 dollar AS di Belanda & 522 dollar AS di Perancis.

Awas Penyakit Paru Obstruktif Kronik | cahayu | 4.5

Leave a Reply